Rabu, 12 Maret 2014

AYAT-AYAT TENTANG LINGKUNGAN HIDUP


Lingkungan yang merupakan alam tempat manusia berada didalamnya harus dijaga kelestariannya. Pelestarian ini diwujudkan dalam bentuk pemeliharaan alam, dimana segala yang berada di alam bukanlah untuk kepentingan manusia saja, tetapi juga untuk kepentingan makhluk lain. Akan tetapi, akhir-akhir ini keindahan alam sudah mulai memudar dengan munculnya perubahan cuaca diikuti global warming karena kerusakan alam yang parah akibat ulah tangan-tangan jahil yang menebang hutan secara liar tanpa adanya reboisasi, yang membuang sampah ke segala arah sesuai kehendaknya sendiri, sehingga menjadikan hutan gundul dan muncul pemandangan-pemandangan dan bahkan bau yang tidak sedap.
Manusia memiliki tanggung jawab yang besar di dunia ini. Dalam perannya sebagai khalifah, manusia harus mengurus, memanfaatkan, dan memelihara alam.. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dipaparkan penafsiran Al-quran, yaitu penafsiran  tematik tentang lingkungan. Tentunya agar kita dapat mengambil pelajaran, diantaranya menumbuhkan kesadaran untuk bersikap positif, lebih peduli dan ramah terhadap lingkungan hidup kita,, dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang menimbulkan kerusakan dan ketidaknyamanan terhadap lingkungan.
A.       Apa makna lingkungan hidup dalam al-Qur’an ?
B.        Apa sebab-sebab kerusakan lingkungan hidup ?
C.       Sebutkan beberapa contoh kerusakan lingkungan yang disebut dalam al-Quran ?
D.       Apa akibat kerusahan ekosistem bagi kehidupan kehidupan ?
E.        Bagaimana sikap positif, ramah terhadap lingkungan hidup ?

Makna Lingkungan Hidup Dalam Al-Qur’an
Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya, yang memengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.[1]
     Sedangkan makna lingkungan hidup sebagaimana tertulis dalam surat Al-Mulk: 3-4 adalah :


Ï%©!$# t,n=y{ yìö7y ;Nºuq»yJy $]%$t7ÏÛ ( $¨B 3ts? Îû È,ù=yz Ç`»uH÷q§9$# `ÏB ;Nâq»xÿs? ( ÆìÅ_ö$$sù uŽ|Çt7ø9$# ö@yd 3ts? `ÏB 9qäÜèù ÇÌÈ   §NèO ÆìÅ_ö$# uŽ|Çt7ø9$# Èû÷üs?§x. ó=Î=s)Ztƒ y7øs9Î) çŽ|Çt7ø9$# $Y¥Å%s{ uqèdur ׎Å¡ym ÇÍÈ   


1.      Terjemahan
Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?. Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah. (QS. Al-Mulk : 3-4)
2.      Asbabun Nuzul
      Penulis tidak menemukan asbabun nuzul ayat ini di berbagai referensi.
3.      Penafsiran
       Dalam ayat tersebut, Allah menerangkan bahwa Dialah yang menciptakan alam semesta termasuk tujuh langit yang berlapis-lapis. Sebagian lapisan langit itu berada di atas lapisan yang lain di alam semesta, seakan-akan terapung kokoh di tengah-tengah jagat raya tanpa ada tiang-tiang yang menyangga dan tanpa ada tali-temali yang mengikatnya. Tiap-tiap langit itu menempati ruangan yang telah ditentukan baginya di tengah-tengah jagat raya dan masing-masing lapisan itu terdiri atas ratusan ribu planet yang tidak terhitung banyaknya. Tiap-tiap planet berjalan mengikuti garis edar yang telah ditentukan baginya. Semuanya itu sudah diatur sedemikian rupa sehingga tidak terjadi tabrakan dan kekacauan antara satu dan yang lainnya.
          Kata ar-rohman dalam konteks ayat tersebut bertujuan mengingatkan semua pihak bahwa ciptaan Allah baik yang terdiri dari tujuh langit maupun selainnya, benar-benar hanya karena rahmat dan kasih sayang Allah SWT., bukan karena sesuatu yang lain. Allah tidak menciptakan sesuatu apapun untuk meraih manfaat bagi-Nya, melainkan untuk melimpahkan rahmat kepada makhluk-Nya khususnya manusia.  Allah telag mengatur kebutuhan kita untuk menghirup udara yang segar berbeda dengan kebutuhan tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan mengeluarkan oksigen agar manusia dan binatang dapat menghirupnya, sementara manusia dan binatang mengeluarkan karbondioksida agar pepohonan dapat mekar dan berbuah. Demikianlah Allah mengatur perincian ciptaan-Nya sehingga masing-masing menuju pada tujuannya.[2]

Sebab-Sebab Kerusakan Lingkungan Hidup
Ketika kita mendengar kata kerusakan lingkungan hidup, pikiran kita langsung tertuju pada gempa bumi, longsor, kebarakan hutan, dan hal-hal buruk lainnya yang diakibatkan oleh ulah manusia itu sendiri.
Ath Thobari menjelaskan dalam kitabnya  “Jami’ al bayan fii ta’wiil al-Quran” : Allah SWT mengingatkan manusia bahwa, sudah Nampak kemaksiatan di daratan bumi dan lautnyadan itu semua akibat dari perbuatan manusia padahal Allah sudah melarangnya.[3]
Dalam konferensi Paris II yang diselenggarakan awal tahun 2007, lebih dari 500 ilmuwan dari seluruh dunia bertemu dan membuat seruan mendesak untuk kembali ke lingkungan yang bersih. Konferensi tersebut menelurkan tiga hasil:
1.    Kerusakan dan pencemaran lingkungan telah mencakupi darat, laut, bahkan manusia, tumbuhandan hewan.
2.    Manusia bertanggung jawab atas kerusakan dan pencemaran ini karena polutan berbahaya yang diproduksinya.
3.      Masih ada kemungkinan untuk kembali ke ambang batas normal karbon dalam atmosfer, yaitu dengan mengambil tindakan yang tepat dan berhenti mencemari atmosfer.[4]
Ternyata ketiga hasil konferensi ini dinyatakan secara ringkas dalam Alquransurah ar-Rum ayat 41.

tygsß ßŠ$|¡xÿø9$# Îû ÎhŽy9ø9$# ̍óst7ø9$#ur $yJÎ/ ôMt6|¡x. Ï÷ƒr& Ĩ$¨Z9$# Nßgs)ƒÉãÏ9 uÙ÷èt/ Ï%©!$# (#qè=ÏHxå öNßg¯=yès9 tbqãèÅ_ötƒ ÇÍÊÈ  

1.      Terjemahan
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah menjadikan mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar-Rum: 41).
2.      Asbabun Nuzul
          Penulis tidak menemukan asbabun nuzul  untuk QS. Ar-Rum: 41 di berbagai referensi.
3.      Penafsiran
          Pada ayat sebelumnya dijelaskan adanya keterkaitan antara kondisi-kondisi kehidupan dengan perbuatan manusia dan juga menjelaskan tentang kerusakan hati manusia serta akidah dan amal mereka, akan menghasilkan kerusakan dibumi baik di daratan maupun di lautan. [5]
          Para ulama berbeda pendapat menafsirkan “kerusakan didarat dan di laut” dalam ayat ini.
          Qotadah dan As-Suudiy mengatakan yang dimaksud kerusakan adalah syirik, dan itu merupakan kerusakan yang paling besar. Sedangkan menurut Ibnu Abbas, Ikrimah dan Mujahid mengatakan : “Yang dimaksud kerusakan di daratan yaitu seseorang membunuh saudaranya. Sedangkan kerusakan yang berada di lautan adalah mereka yang membawa kapal-kapal (mencari hasil laut) dengan paksa”. Ada yang mengatakan kerusakan di sini adalah kekeringan dan sediktnya tumbuh-tumbuhan dan kurangnya keberkahan. Ibnu Abbas mengatakan : “Kurangnya keberkahan dikarenakan perbuatan manusia agar mereka bertaubat”.[6]
          Kerusakan tersebut tidak mungkin terjadi tanpa adanya sebab dan terjadi secara tiba-tiba melainkan karena perbuatan dosa manusia dan sudah menyebarnya kedzoliman dimuka bumi.
          Dan firman Allah “supaya Allah menjadikan mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka”, Ath Thobari mengatakan : “Allah memberikan musibah kepada manusia akibat dari perbuatan-perbuatan mereka yang telah mereka lakukan, dank arena kemaksiatan-kemaksiatan yang telah mereka lakukan dengan tujuan “ agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”dan agar mereka kembali bertaubat dan meninggalkan maksiat.[7]

Contoh Kerusakan Lingkungan yang Disebut dalam Al-Quran.
Di dalam alam semesta ini, telah terjadi kerusakan yang disebabkan oleh umat manusia. Contoh konkretnya telah disebutkan dalam Quran salah satunya tentang kaum nabi Nuh dan masa kerajaan Firaun
ôs)s9ur $uZù=yör& %·nqçR 4n<Î) ¾ÏmÏBöqs% y]Î7n=sù öNÎg‹Ïù y#ø9r&>puZy žwÎ) šúüÅ¡÷Hs~ $YB%tæ ãNèdxs{r'sù Üc$sùqÜ9$# öNèdur tbqßJÎsßÇÊÍÈ  
1.      Terjemahan
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dalam keadaan mereka adalah orang-orang zalim. (QS. Al-Ankabut : 14)
2.      Asbabun Nuzul
Penulis tidak menemukan asbabun nuzul ayat ini di berbagai referensi.
3.      Penafsiran
Dari ayat-ayat sebelumnya, telah dijelaskan tentang cobaan, ujian, dan siksaan, serta menguraikan betapa kuasa dan luas ilmu Allah. Ayat selanjutnya bersangkutan dengan ujian serta ketabahan kaum yang beriman. Yakni kisah mengenai Nabi Nuh as. yang mengajak dan menuntun kaumnya dengan berbagai cara. Ia adalah Nabi yang paling lama menghadapi kaumnya. Ayat diatas menyatakan: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun”.Selama itu , Nabi Nuh mengajak dan menuntun kaumnya dengan berbagai cara dan selama itu pula hampir semua mereka membangkang dan durhaka, maka merekayang durhaka itu ditimoa banjir besar , dalam keadaan mereka adalah orang-orang zalim yang mencapai puncak kezaliman terhadap Allah dan Rasul-Nya. Kisah Nabi Nuh as. telah diuraikan dalam surat Hud. Di sini ada sedikit penambahan yaitu bahwa beliau berada di tengah kaumnya untuk berdakwah selama 950 tahun.  Sayyid Quthb berpendapat bahwa itu merupakan waktu yang sangat lama. dan selama itu pula hampir semua dari kaumnya  membangkang dan durhaka. Kaum yang membangkang itu ditimpa banjir besar dalam keadaan zalim.[8]

Sebagai nabi, Nabi Nuh tidak pernah lemah dan menyerah dalam berdakwah baik siang maupun malam, beliau selalu menasehati kaumnya. Namun, kaumnya tidak mau mengikuti ajakan Beliau, bahkan tetap di atas kekafiran. Sehingga tiba saat dimana Nabi Nuh as. mendoakan kebinasaan bagi mereka di dalam kesabarannya  dalam berdakwah.
Peristiwa tersebut dapat menjadi pelajaran bagi kita semua untuk selalu mengikuti apa yang diajarkan oleh Nabi kita.

Akibat Kerusahan Ekosistem Bagi Kehidupan
ãNåkøExs{r'sù èpxÿô_§9$# (#qßst7ô¹r'sù Îû öNÏdÍ#yŠ šúüÏJÏW»y_ ÇÒÊÈ  

1.      Terjemahan
kemudian mereka ditimpa gempa, Maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka.         (QS. Al-A’Raf : 91)
2.      Asbabun Nuzul
Penulis tidak menemukan asbabun nuzul ayat ini di berbagai referensi.
3.      Penafsiran
Sudah banyak peringatan yang disampaikan oleh Nabi Syu’aib as. kepada kaumnya yang telah dijelaskan pada ayat sebelumnya. Maka kini saatnya ancaman Allah dijatuhkan akibat keingkaran mereka kepada Allah serta perbuatan menghalangi orang lain untuk menganut agama Allah Orang-orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman yang setimpal. Oleh sebab itu, Allah telah menimpakan kepada mereka azab yang sangat berat berupa gempa dan petir yang dahsyat yang membinasakan mereka, sehingga mereka mati bergelimpangan di bawah reruntuhan rumah-rumah mereka, seolah-olah mereka tidak pernah ada di negeri itu.

Kisah nabi Syu’aib juga terdapat dalam surat asy syuarah, disini disebutkan bahwa nabi Suaib diutus Allah kepada penduduk negeri Aikah. Sedangkan dalam surat al a’rah disebutkan bahwa nabi Suaib adalah saudara sebangsa dari kaum Madyan, yaitu penduduk neegeri Madyan.
Kedua kaum tersebut mempunyai kesamaan, baik mengenai kekafiran mereka, maupun mengenai perbuatan maksiat yang mereka lakukan, misalnya ketidak jujuran mereka dalam menimbang dan menakar ketika jual beli. Nabi Syuaib menyiarkan agama kepada mereka semua. Azab Allah telah menimpa kedua golongan itu dalam waktu yang sama atau dalam waktu yang berdekatan jaraknya, maka azab yang ditimpakan kepada penduduk Madyan adalah berupa “ar rajfah”, yaitu gempa yang sangat dahsyat yang disertai suara gemuruh yang amat keras, sedang azab yang ditimpakan kepada penduduk Aikah adalah berwujud angin samum dan udara yang sangat panas, yang berahir dengan datangnya gumpalan awan. Mereka lalu beerkumpul dibawah awan yang menaungi mereka untuk mendapatkan udara yang sejuk,karena mereka menyangka awan itu akan membeerikan hujan akan tetapi gumpalan awan itu ternyata awan panas yang akan ditimpakan kepada mereka sehingga semuanya mati tertimpa awan panas.[9]

Sikap Positif, Ramah Terhadap Lingkungan Hidup

Ÿwur (#rßÅ¡øÿè? Îû ÇÚöF{$# y÷èt/ $ygÅs»n=ô¹Î) çnqãã÷Š$#ur $]ùöqyz $·èyJsÛur 4 ¨bÎ) |MuH÷qu «!$# Ò=ƒÌs% šÆÏiB tûüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÎÏÈ  

   1.      Terjemahan

dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.  (QS. Al A’raf: 56)
2,   Asbabun Nuzul
Penulis tidak menemukan asbabun nuzul ayat ini di berbagai referensi.
3.      Penafsiran
Dalam ayat ini Allah melarang manusia agar tidak membuat kerusakan di muka bumi. Larangan membuat kerusakan ini mencakup semua bidang, seperti merusak pergaulan, jasmani, dan rohani orang lain, kehidupan dan sumber-sumber kehidupan (pertanian, perdagangan, dll), merusak lingkungan dan lain sebagainya.
Kata “Ba’da Ishlahiha” adalah setelah Allah memperbaiki penciptaannya sesuai dengan peruntukannya bagi kemanfaatan mahluk dan kemashlahatan orang-orang mukallaf. Bumi ini diciptakan Allah dengan segala kelengkapannya, seperti gunung, lembah, sungai, lautan, daratan, hutan, dan lain-lain, yang ssemuanya ditujukan untuk keperluan manusia, agar dapat diolah dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan mereka. Oleh karena itu, manusia dilarang membuat kerusakan di muka bumi dengan cara Allah menurunkan agama dan mengutus para rosul untuk memberi petunjuk agar manusia dapat hidup dalam kebahagiaan, keamanan dan kedamaian. Sebagai penutup kenabian, Allah mengutus rasulullah yang membawa ajaran islam sebagai rahmat semesta alam.
Sesudah Allah melarang manusia membuat kerusakan, maka di akhir ayat ini diungkap lagi etika berdoa. Ketika brdoa untuk urusan duniawi atau ukhrawi, selain dengan sepenuh hati, khusuk, dan suara yang lembut, hendaknya disertai pula dengan perasaan takut dan penuh harapan. Cara berdoa semacam ini akan mempertebal keyakinan dan akan menjauhkan diri dari keputusasaan, karena langsung memohon kepada Allah yang Maha Kuasa dan Maha Kaya.[10]

ANALISIS
Alam ini diciptakan oleh Allah untuk manusia supaya dijaga kelestariannya. Kerusakan yang terjadi bukan karena alam itu sendiri, melainkan juga karena ulah tangan manusia yang lalai dalam tugasnya menjadi khalifah sebagai pengemban amanah agar tetap menjaga alam dengan baik.
Perilaku manusia yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan contohnya seperti membuang sampah sembarangan, penebangan hutan secara liar, dan efek rumah kaca yang berlebihan. Padahal dampak dari itu semua menimbulkan kerusakan bagi lingkungan. Selain itu, di dalam Al-Qur’an juga telah dijelaskan tentang beberapa contoh kerusakan lingkungan seperti kisah kaum Nabi Nuh yang selalu menentang ajakan dan perintah Nabi Nuh hingga Allah menurunkan azab kepada mereka berupa banjir yang sangat besar.
Kerusakan lingkungan tersebut tentunya berdampak pada ekosistem kehidupan manusia . Oleh karena itu, dibutuhkan sikap positif dan ramah terhadap lingkungan hidup.

KESIMPULAN
Lingkungan hidup yang ada disekitar kita harus selalu kita jaga agar terhindar dari kerusakan-kerusakan lingkungan yang berdampak pada ekosistem kehidupan manusia. Terlalu banyak contoh kerusakan lingkungan yang kita lihat yang disebabkan oleh perbuatan manusia. Sikap positif dan ramah terhadap lingkungan sangat diperlukan guna terciptanya lingkungan hidup  yang sehat, nyaman, indah dan aman.


PENUTUP
Demikian makalah ini kami susun, semoga dengan ini kita bisa lebih memerhatikan lingkungan sekitar disertai dengan tindakan untuk senantiasa menjaganya sebagai bentuk tanggungjawab kita sebagai manusia yang Allah percayakan menjadi kholifah dimuka bumi ini. Kritik dan saran yang membangun sangatlah kita harapkan demi kesempurnaan makalah selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Kementerian Agama RI. 2010. Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid 3. Jakarta: Lentera Abadi.
Quthb, Sayyid. 2000. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an jilid 9, Jakarta: Gema Insani Pres.
Shihab, M.Quraisy. 2002. Tafsir Al-Mishbah volume 10, Jakarta: Lentera Hati.
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Mishbah volume 14, Jakarta: Lentera Hati.
http://www.fiqhislam.com/index.php?option=com_content&view=article&id=456:mukjizat-al-quran-kerusakanlingkungan&catid=71:artikelalquran&Itemid =416 diakses tanggal 28-11-2013 pukul 11.00 WIB.
Id.wikipedia.org/wiki/lingkungan diakses tanggal 28-11-2013 pukul 11.00 WIB
Itqalhikmah.com/tafsir-surah-ar-ruum-41-bumi-adalah-amanah/ diakses tanggal 01-12-2013 pukul 15.30 WIB.

[1] Id.wikipedia.org/wiki/lingkungan diakses tanggal 28-11-2013 pukul 11.00 WIB
[2] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah jilid 14, Jakarta: Lentera Hati, 2002, hal.200-201
[3] Itqalhikmah.com/tafsir-surah-ar-ruum-41-bumi-adalah-amanah/ diakses tanggal 1-12-2013 pukul 15.30 WIB.
mukjizat-al-quran-kerusakan-lingkungan&catid=71:artikel-al-quran&Itemid=416 , diakses tgl 28-11-2013 pukul 11.00 WIB.
[5] Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an jilid 9, Jakarta: Gema Insani Pres, 2000, hal.150
[6] Itqalhikmah.com/tafsir-surah-ar-ruum-41-bumi-adalah-amanah/ diakses tanggal 1-12-2013 pukul 15.30 WIB.
[7] Itqalhikmah.com/tafsir-surah-ar-ruum-41-bumi-adalah-amanah/ diakses tanggal 1-12-13 jam 15.30
[8] M.Quraisy Shihab, Tafsir Al-Mishbah volume 10, Jakarta:Lentera Hati, 2002, hal.457
[9] Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid 3, (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), hlm 408-410

[10] Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid 3, (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), hlm 362-365

Sabtu, 11 Januari 2014

Materi Ilmu : SEMANGAT Belajar, MENGAMALKAN dan MENYAMPAIKAN ILMU

SEMANGAT Belajar, MENGAMALKAN dan MENYAMPAIKAN ILMU   


a. Muhasabah
 Pada masa sekarang sekolah seakan-akan tempat mencari nilai tapi bukan mencari ilmu. Begitulah umumnya motivasi anak ketika sekolah dan menancap betul di dalam hati. Hal ini menjadi orientasi dan tujuan dalam perjalanan pendidikan pelajar sekarang. Padahal harus disadari jika nilai bukanlah segalanya. Ketika masuk SMA, pada umumnya yang tergambar dalam pikiran pelajar adalah bagaimana harus mendapat nilai bagus dengan grafik yang meningkat secara konsisten, bukannya menurun. Pelajar dituntut SEMANGAT Belajar, MENGAMALKAN dan MENYAMPAIKAN ILMUuntuk belajar demi mendapat nilai yang baik, jika hasil tidak sesuai maka rasa menyesal bahkan putus asa menyelimuti.
Jika seseorang belajar hanya berorientasi pada nilai, akan tetapi yang diperoleh bukan  nilai yang baik, sehingga dia merasa tidak tahu apa yang telah pelajari, semua seperti biasa saja, setelah ulangan atau ujian semuanya serasa hilang. Hal ini berarti ilmu itu hilang dan rasanya tidak ada lagi yang tersisa. Namun jika orientasi belajar adalah ilmu maka kehidupan pelajar menjadi lebih bermakna, dia selalu merasakan kepuasan setiap  selesai belajar, dan tanpa di kejar pun nilai meningkat fantastis.
Sesungguhnya ketulusan niat dan kesabaran dalam melakukan segala kegiatan sangat diperlukan, bukan hanya untuk mengejar sesuatu. Seseorang akan rela belajar hingga pagi, hanya untuk mengejar kepuasan belajar, kenikmatan belajar akan di peroleh. Berbeda sekali ketika belajar hanya untuk mengejar nilai, sangat susah bagi seseorang untuk belajar hingga tengah malam, susah untuk memfokuskan diri. Jadi intinya, kita harus melakukan sesuatu dengan tulus dan tanpa mengharapkan imbalan, atau jangan hanya meminta atau mengharapkan imbalan dari apa yang kita kerjakan, semuanya itu akan berjalan beriringan sesuai dengan yang kita kerjakan.


 b. Tuntunan Menuntut Ilmu
 
1.        Pengertian
Kata ilmu dalam bahasa Indonesia berasal dari kata al-‘ilmu dalam bahasa Arab. Secara bahasa (etimologi) kata al-‘ilmu adalah bentuk masdar atau kata sifat dari kata `alima – ya`lamu- `ilman. Dijelaskan bahwa lawan kata dari al-‘ilmu adalah al-jahl (bodoh/tidak tahu). Sehingga jika dikatakan  alimtu asy-syai’a berarti “saya mengetahui sesuatu”. 
Sementara secara istilah (terminologi) ilmu berarti pemahaman tentang hakikat sesuatu. Ia juga merupakan pengetahuan tentang sesuatu yang diketahui dari dzat (esensi), sifat dan makna sebagaimana adanya. Dalam kitab Tafsir Aisar at-Tafaasir dijelaskan bahwa:
            Artinya : “Ilmu itu adalah jalan menuju rasa takut kepada Allah, barang siapa yang tidak mengenal Allah, maka dia tidak mempunyai rasa takut pada-Nya.  Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama”

2.        Semangat Menuntut Ilmu
Umat Islam wajib menuntut ilmu yang selalu dibutuhkan setiap saat. Ia wajib shalat, berarti wajib pula mengetahui ilmu mengenai shalat. Diwajibkan puasa, zakat, haji dan sebagainya, berarti wajib pula mengetahui ilmu yang berkaitan dengan hal tersebut, sehingga apa yang dilakukannya mempunyai dasar. Dengan ilmu berarti manusia mengetahui mana yang harus dilakukan mana yang tidak boleh dilakukan. Demikian juga dalam hidup kemasyarakatan, interaksi antar sesama manusia juga harus di dasari dengan ilmu, sehingga tercipta suatu masyarakat yang kondusif dan damai. Allah berfirman dalam Al Qur’an surat At Taubah ayat 122 :
Artinya : Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya”. (QS. At Taubah : 122)
Ayat di atas memberikan pemahaman kepada kita bahwa sebagai orang beriman; semangat, tenaga dan pikiran tidak dibenarkan hanya untuk usaha memenuhi kepuasan nyata seperti perang. Akan tetapi semangat, tenaga dan pikiran juga untuk usaha menuntut ilmu terutama pengetahuan agama untuk kemanfaatan diri sendiri dan orang lain. Ilmu merupakan penuntun manusia memahami ayat-ayat Allah baik Qauliyah maupun Kauniyah sehingga mampu mamaknai hakekat hidup dan akhirnya memperoleh keselamatan dunia dan akhirat.
Dalam menuntut ilmu hendaklah tetap tabah dan sabar dalam menghadapi berbagai macam bahaya dan ujian mental yang muncul. Sebab gudang kesuksesan adalah di dalam menghadapi cobaan. Maka siapa yang ingin berhasil maksud dan tujuan menuntut ilmu harus bersabar menghadapi banyaknya cobaan. Syeh Az-Zarnuji dalam kitab Ta’limul Muta’allim mangatakan, pernah kudengar sya’ir yang konon merupakan gubahan dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah :
Artinya :
·         Ingatlah, kamu tidak akan memperoleh ilmu pengetahuan kecuali dengan enam perkara ; yang akan kujelaskan semua kepadamu secara ringkas.
·         Yaitu : kecerdasan, minat yang besar, kesabaran, bekal yang cukup, petunjuk guru, dan waktu yang lama.

3.        Patuh kepada Orang Tua dan Guru
Selain syarat tersebut di atas kunci kesuksesan dalam ilmu adalah patuh kepada orang tua dan guru, yaitu menghormati mereka baik ketika masih hidup maupun sudah meninggal. Kita harus bersikap sopan dan santun kepada orang tua dan guru baik dalam ucapan maupun perbuatan, selalu mendoakan mereka jika sudah meninggal minimal setiap setelah shalat.
Orang yang paling dekat dan berjasa kepada kita adalah kedua orang tua. Merekalah yang membawa kita ke dunia ini dengan izin Allah. Betapa besar jasa mereka sehingga kita tidak akan mampu menghitung dan membalasnya. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita harus berbakti kepada kedua orang tua. Allah menempatkan kewajiban berbakti kepada orang tua pada peringkat kedua setelah kewajiban menyembah Allah swt. Firman Allah swt dalam Al Qur’an surat Al Isra’ ayat 23 :
Artinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. Al Isra’ : 23)
Begitu besarnya jasa orang tua kita sehingga keridlaan dan kemurkaan Allah tergantung pada keridlaan dan kemurkaan keduanya. Rasulullah saw bersabda:
Artinya:”Keridaan Allah tergantung pada keridaan orang tua dan kemurkaan Allah tergantung pula pada kemurkaan keduanya.” (HR. Tabrani).

Guru adalah orang yang telah mendidik dan mengajarkan ilmu kepada kita.  Dalam paradigma Jawa, guru bermakna “digugu dan ditiru”. Dikatakan digugu (dipercaya) karena guru memiliki seperangkat ilmu yang memadai, yang karenanya ia memiliki wawasan dan pandangan yang luas dalam melihat kehidupan ini.  Dikatakan ditiru (diikuti) karena guru memiliki kepribadian yang utuh, yang karenanya segala tindak tanduknya patut dijadikan panutan dan suri teladan oleh peserta didiknya. Pengertian ini diasumsikan bahwa tugas guru tidak sekedar transformasi ilmu, tapi juga bagaimana ia mampu menginternalisasikan ilmunya pada peserta didiknya.
Guru yang menjadikan kita orang beriman, mengerti hal yang baik dan buruk, gura juga menjadikan kita orang yang pandai dan memahami ilmu pengetahuan, sehingga kita akan memperoleh kedudukan yang tinggi di hadapan Allah dan manusia sebagaimana firman Allah swt:
Artinya: ”Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Q.S. Al-Mujahadah:11)

Di samping itu, para penuntut ilmu dijanjikan oleh Rasulullah saw. akan diberikan kemudahan jalan ke surga. Perhatikan hadits di bawah ini:
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا اِلَى الْجَنَّةِ ـ رواه مسلم
Artinya: “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).



 c. Teladan Mencari Ilmu
 
Para Ilmuwan atau Ulama dahulu, dalam proses menuntut ilmu memiliki semangat yang kuat sehingga menjadi sosok ilmuwan yang di akui dan memberikan kemaslahatan sampai sekarang. Semangat tersebut patut menjadi teladan bagi kita dalam semangat  mencari ilmu. Berikut ini beberapa kisah menakjubkan tentang kesungguhan para Ulama dalam menuntut ilmu :
1)        Kesabaran dan Kesungguhan Menuntut Ilmu
Ibnu Thahir al-Maqdisy berkata : ”Aku dua kali kencing darah dalam menuntut ilmu hadits, sekali di Baghdad dan sekali di Mekkah. Aku berjalan bertelanjang kaki di panas terik matahari dan tidak berkendaraan dalam menuntut ilmu hadits sambil memanggul kitab-kitab di punggungku”.
2)        Belajar Setiap Hari
Al-Imam an Nawawy setiap hari membaca 12 jenis ilmu yang berbeda (Fiqh, Hadits, Tafsir, dsb..)
3)        Membaca Kitab Sebagai Pengusir Kantuk
Ibnul Jahm membaca kitab jika beliau mengantuk, pada saat yang bukan semestinya. sehingga beliau bisa segar kembali.
4)        Berusaha Mendapatkan Faidah Ilmu Meski Di Kamar Mandi
Majduddin Ibn Taimiyyah (Kakek Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah) jika akan masuk kamar mandi berkata kepada orang yang ada di sekitarnya: “Bacalah kitab ini dengan suara keras agar aku bisa mendengarnya di kamar mandi”.
5)        Kemampuan Membaca Yang Luar Biasa
Ibnul Jauzy  sepanjang hidupnya telah membaca lebih dari 20.000 jilid kitab.
Al-Khothib al-Baghdady membaca Shahih al-Bukhari dalam 3 majelis ( 3 malam), setiap malam mulai ba’da Maghrib hingga Subuh (jeda sholat)
Catatan : Shahih alBukhari terdiri dari 7008 hadits, sehingga rata-rata dalam satu kali majelis (satu malam) dibaca 2336 hadits.
Abdullah bin Sa’id bin Lubbaj al-Umawy dibacakan kepada beliau Shahih Muslim selama seminggu dalam sehari 2 kali pertemuan (pagi dan sore) di masjid Qurtubah Andalus setelah beliau pulang dari Makkah.
6)        Mengulang  Membaca Suatu Kitab Hingga Berkali-Kali
Al-Muzani berkata: ”Aku telah membaca kitab arRisalah (karya asy-Syafi’i) sejak 50 tahun lalu dan setiap kali aku baca aku menemukan faidah yang tidak ditemukan sebelumnya”.
Gholib bin Abdirrahman bin Gholib al-Muhaariby telah membaca Shahih alBukhari sebanyak 700 kali.
7)        Kesungguhan Menulis
Ismail bin Zaid dalam semalam menulis 90 kertas dengan tulisan yang rapi.
Ahmad bin Abdid Da-im al-Maqdisiy telah menulis/menyalin lebih dari 2000 jilid kitab-kitab. Jika senggang, dalam sehari bisa menyelesaikan salinan 9 buku. Jika sibuk dalam sehari menyalin 2 buku.
Ibnu Thahir berkata: ”saya menyalin Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, dan Sunan Abi Dawud 7 kali dengan upah, dan Sunan Ibn Majah 10 kali”.
Ibnul Jauzy dalam setahun rata-rata menyalin 50-60 jilid buku
8)        Sangat Bersemangat Dalam Mencatat Faidah
 Al-Imam an-Nawawy berkata: “Janganlah sekali-kali seseorang meremehkan suatu faidah (ilmu) yang ia lihat atau dengar. Segeralah ia tulis dan sering-sering mengulang kembali”.
Al-Imam al-Bukhary dalam semalam seringkali terbangun, menyalakan lampu, menulis apa yang teringat dalam benaknya, kemudian beranjak akan tidur, terbangun lagi , dan seterusnya hingga 18 kali.


d. Uswah Hasanah

 




SEMANGAT MENUNTUT ILMU DAN KEPATUHAN KEPADA ORANG TUA
KH. A. WAHID HASYIM
 (MENTERI AGAMA PERTAMA)
Sejak kecil Abdul Wahid sudah masuk Madrasah Tebuireng dan sudah lulus pada usia yang sangat belia, 12 tahun. Selama bersekolah, ia giat mempelajari ilmu-ilmu kesustraan dan budaya Arab secara outodidak. Dia juga mempunyai hobi membaca yang sangat kuat. Dalam sehari, dia membaca minimal lima jam. Dia juga hafal banyak syair Arab yang kemudian disusun menjadi sebuah buku.
Ketika berusia 13 tahun, Abdul Wahid mulai melakukan pengembaraan mencari ilmu. Awalnya ia belajar di Pondok Siwalan, Panji, Sidoarjo. Di sana ia mondok mulai awal Ramadhan hingga tanggal 25 Ramadhan (hanya 25 hari). Setelah itu pindah ke Pesantren Lirboyo, Kediri, sebuah pesantren yang didirikan oleh KH. Abdul Karim, teman dan sekaligus murid ayahnya. Antara umur 13 dan 15 tahun, pemuda Wahid menjadi Santri Kelana, pindah dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Tahun 1929 dia kembali ke pesantren Tebuireng. Ketika kembali ke Tebuireng, umurnya baru mencapai 15 tahun dan baru mengenal huruf latin. Dengan mengenal huruf latin, semangat belajarnya semakin bertambah. Ia belajar ilmu bumi, bahasa asing, matematika, dll. Dia juga berlangganan koran dan majalah, baik yang berbahasa Indonesia maupun Arab. Pemuda Abdul Wahid mulai belajar Bahasa Belanda ketika berlangganan majalah tiga bahasa, ”Sumber Pengetahuan” Bandung. Tetapi dia hanya mengambil dua bahasa saja, yaitu Bahasa Arab dan Belanda. Setelah itu dia mulai belajar Bahasa Inggris.
Pada tahun 1932, ketika umurnya baru 18 tahun, Abdul Wahid pergi ke tanah suci Mekkah bersama sepupunya, Muhammad Ilyas. Selain menjalankan ibadah haji, mereka berdua juga memperdalam ilmu pengetahuan seperti nahwu, shorof, fiqh, tafsir, dan hadis. Abdul Wahid menetap di tanah suci selama 2 tahun.
Sepulang dari tanah suci, KH. Abdul Wahid (biasa dipanggil KH. Wahid Hasyim) bukan hanya membantu ayahnya mengajar di pesantren, tapi juga terjun ke tengah-tengah masyarakat. Ketika usianya menginjak 20-an tahun, Kiai Wahid mulai membantu ayahnya menyusun kurikulum pesantren, menulis surat balasan dari para ulama atas nama ayahnya dalam Bahasa Arab, mewakili sang ayah dalam berbagai pertemuan dengan para tokoh. Bahkan ketika ayahnya sakit, ia menggantikan membaca kitab Shahih Bukhari, yakni pengajian tahunan yang diikuti oleh para ulama dari berbagai penjuru tanah Jawa dan Madura.
Dengan bekal keilmuan yang cukup, pengalaman yang luas serta wawasan global yang dimilikinya, Kiai Wahid mulai melakukan terobosan-terobosan besar di Tebuireng. Awalnya dia mengusulkan untuk merubah sistem klasikal dengan sistem tutorial, serta memasukkan materi pelajaran umum ke pesantren. Usul ini ditolak oleh ayahnya, karena khawatir akan menimbulkan masalah antar sesama pimpinan pesantren. Namun pada tahun 1935, usulan Kiai Wahid tentang pendirian Madrasah Nidzamiyah, dimana 70% kurikulumnya berisi materi pelajaran umum, diterima oleh sang ayah.
Pada masa setelah Indonesia merdeka, di dalam kabinet pertama yang dibentuk Presiden Sukarno (September 1945), Kiai Wahid ditunjuk menjadi Menteri Negara. Demikian juga dalam Kabinet Sjahrir tahun 1946. Ketika KNIP dibentuk, Wahid Hasyim menjadi salah seorang anggotanya mewakili Masyumi dan meningkat menjadi anggota BPKNIP tahun 1946. Setelah terjadi penyerahan kedaulatan RI dan berdirinya RIS, dalam Kabinet Hatta tahun 1950 dia diangkat menjadi Menteri Agama. Jabatan Menteri Agama terus dipercayakan kepadanya selama tiga kali kabinet, yakni Kabinet Hatta, Natsir, dan Kabinet Sukiman.


Rangkuman

  
1.     Menuntut ilmu merupakan kwajiban bagi sitiap muslim, dengan ilmu seseorang akan dapat memenuhi kebutuhan duniawi maupun ukhrawi.
2.    Ilmu bisa deperoleh hanya dengan cara dan etika yang benar serta sabar menghadapi cobaan.
3.    Islam telah memberikan tuntunan menuntun ilmu yang benar sehingga bisa bermanfaat bagi diri sendri dan orang lain.
4.    Ilmu merupakan identitas manusia yang membedakannya dengan makhluk lain
5.  Ilmu tidak bisa diperoleh dengan mudah, dibutuhkan syarat-syarat khusus diantarangan adalah patuh kepada orang tua dan guru agar mendapatkan ilmu yang manfaat dan barakah.
6.  Orang tua dab guru harus dihormati, jika mereka masihi hidup kita harus sopan dan santun serta tidaka mnyakiti hati mereka, jika sudah meninggal arus kita doakan.

7.   Ulama terdahulu telah mencontohkan cara-cara yang dilakukan sehingga memperoleh ilmu yang membawa manfaat bagi kita sampai sekarang.

Minggu, 30 Desember 2012


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله الرحمن الرحيم
Salam Hormat, dan TERIMA KASIH jika ANDA memberikan 
SARAN dan KRITIKAN BEBAS,
dipapan komentar dibawah ini:

Jumat, 28 Desember 2012

SEBAB-SEBAB KEGALAUAN HATI PEMUDA-PEMUDI

Hati Galau berarti ada Penyakit di dalam hatinya, karena hati sama persis perilakunya dengan tubuh manusia. berikut beberapa penyakit-penyakit Pemuda-pemudi saat ini, menurut DR. Áidh Ibn Abdullah Al-Qarny:

  1. Lemahnya hubungan dengan Allah SWT
  2. Takut kepada selain Allah SWT dan lemah dalam bertawakal.
  3. Dalam menjalankan agama tidak didasari dengan keilmuan yang Jelas dan Mantap tentang Fiqih.
  4. Merasa terpinggirkan dalam hidupnya jika tidak mengikuti perkembangan Zaman.
  5. Terlalu menyalahkan keadaan diri dan tidak pede. (ato terlalu pede tapi tidak melihat potensi diri-pen)
  6. Kurang Sabar dalam menghadapi cobaan
  7. Terpengaruh kemajuan era globalisasi
  8. Tidak memiliki semangat juang ditambah dengan depresi dan rasa putus asa
  9. Menyia-nyiakan waktu dengan hiburan dan menunda-nunda kebaikan
  10. Tidak menggali Potensi dan bakat diri
  11. Lemahnya Hubungan antara Pemuda, Guru dan Ulama

Senin, 17 Desember 2012

Bismillah ... kata Utama yang Terucap disetiap tindakan
Setiap perbuatan yang dimulai dengan Bismillah...Jadi BERKAH

KATA HIKMAH

- Hidup Hanya Sekali Hiduplah Yang BAIK
- Sekali Memilih Buatlah Pilihan yang TERBAIK
- Tinggalkan segala hal yang ada KERAGUAN dalam HATI
- Tempatkan YA dan TIDAK pada porsinya
- Jangan Berbuat sesuatu Yang Kamu TIDAK TAHU ilmunya

Rabu, 05 Desember 2012

JANJI ALLAH SWT. PADA ORANG YANG BERIMAN


Allah SWT. Menjanjikan banyak anugerah bagi orang-orang yang beriman baik di dunia maupun di akhirat.
A.      Janji-janji di dunia:
  •   Keberuntungan

قَدْ اَفْلَحَ المُؤْمِنُوْنَ
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman” (QS. Al-Mukminun: 1)

  •   Hidayah (petunjuk)

وَإِنَّ اللهَ لَهَادِ الَّذِيْنَ أٰمَنُوا اِلٰى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ
“ Dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman di ke jalan yang lurus” (QS. Al-Hajj:54)

  • Pertolongan

وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ المُؤْمِنِيْنَ
“Dan kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman” (QS. Ar-ruum: 47)

  • Kekuatan

وَ ِللهِ العِزَّةُ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ
"Padahal kekuatan itu adalah hanyalah milik Allah, milik RasulNya dan milik orang-orang yang beriman” (QS. AL-Munafiquun: 8)

  • Kekuasaan di bumi
  • Pembelaan

إِنَّ اللهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِيْنَ آمَنُوْا
“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman” (QS. Al-Hajj: 38)

  • Keamanan

اَلَّذِيْنَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبَسُوۤا اِيْمٰٰنَهُمْ بِظُلْمٍ اَوْلَـۤئِكَ لَهُمُ الاَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُوْنَ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman dengan kedhaliman (syirik) mereka  itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. Al-An-’aam: 82)

  • Keselamatan
  • Kehidupan yang baik
  • Tidak dikuasai oleh orang kafir
  • Mendapatkan Berkah
  • Kebersamaan dengan Allah SWT.

B.      Janji-jani di Akhirat

Senin, 03 Desember 2012

KEUTAMAAN SHOLAT BERJAMA'AH


يِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

 إِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَاٰقَامُوا الصَّلاَةَ وَاٰتُوا الزَّكَاةَ لَهُمْ اَجْرَهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ

Assalamu alaikum Wa Rahmatullah wa Barokatuhu.
Sholat adalah Bagian RUKUN ISLAM yang terpenting dan utama yang harus diperhatikan dan dilaksanakan oleh setiap MUSLIM dan MUSLIMAH yang sudah baligh (dewasa sekitar usia ±15 tahun).
Berikut kami sampaikan beberapa Keutamaan Sholat Berjama’ah yang kami ambil dari keterangan yang terdapat dalam kumpulan hadits Kitab “DURROTUN NASIHIN”: (mohon untuk dilihat di kitab aslinya yang berbahasa arab)
  1. Siapa yang selalu melaksanakan sholat 5 waktu berjama’ah, maka dia mendapatkan 5 Hal: a. Tidak akan menjadi Fakir hidup di dunia, b. Terbebas dari Siksa Kubur, c. Mendapat catatan amal dengan tangan kanan, d. Berjalan bagaikan kilat melewati Shirotol Mustaqim, e. Dimasukkan Surga oleh Allah tanpa Hisab.
  2. Seorang laki-laki yang melaksanakan sholat berjama’ah lebih baik 40 tahun nilai pahalanya dibanding sholat sendirian di rumah.
  3. Sesungguhnya Sholat Jama’ah lebih utama 27 tingkat (deajat) dibanding sholat sendirian
  4. Di Hari kiamat nanti terdapat sekelompok kaum yang : 1. berwajah seperti Bintang mereka adalah orang yang jika mendengar suara adzan langsung berwudlu dan sholat berjama’ah. 2. Berwajah seperti Rembulan adalah kaum yang sudah berwudlu sebelum adzan dikumandangkan dan sholat berjama’ah, 3. Berwajah seperti Matahari yaitu kaum yang sudah berwudlu dan menunggu adzan di dalam masjid hingga melaksanakan Sholat berjama’ah.
  5. Barang siapa yang berwudlu dengan air yang mengalir dan sholat dibelakang imam (mulai dari rakaat awal) maka benar-benar dia berhak mendapatkan Rahmat Allah SWT.
  6. Tiga Orang yang Benar-benar Menjadi Kekasih Allah adalah: 1. Orang Yang Menjaga Sholat Lima Waktu tepat pada Waktunya secara berjama’ah, 2. dan orang Berpuasa di Bulan Ramadlon serta, 3. Orang yang menyegerakan Mandi Jinabat (Mandi Menghilangkan Hadas Besar) dan
  7. Tiga Orang yang Benar-benar menjadi Musuh Allah SWT secara Nyata. Adalah: 1. Orang yang menyia-nyiakan sholat berjama’ah dan meninggalkan sholat (sholat diluar waktu yang telah ditentukan).  2, orang yang tidak berpuasa di Bulan Ramadlon dan 3. Orang yang suka menunda-nunda untuk mandi Jinabat (Mandi menghilangkan hadats Besar).
  8. Siapa saja yang Sholatnya tidak mampu menjaga dirinya dari perbuatan Keji dan Mungkar, maka itu sebagai tanda bahwa sholatnya tidak menjadikan dirinya semakin dekat dengan Allah tetapi justru malah jauh dari Allah. (نَعُوذُ بِاللهِ)
  9. Barang siapa sholat 5 waktu maka dia mendapatkan pahala ibadahnya para malaikat yang berada di tujuh langit.
  10. SHOLAT adalah :

  •      Penyebab Allah Ridlo,
  •      Kebiasaan para nabi,
  •      Kesenangan para malaikat,
  •      Cahaya Ma’rifat kepada Allah, 
  •      Asal Keimanan,
  •      Kewajiban Do’a,
  •      Penyebab diterimanya Amal,
  •      Keberkahan rezki dan usaha,
  •      Senjata atas segala musuh,
  •      Dibenci syethan,
  •      Penolong bagi yang melaksanakan Sholat,
  •      Cahaya di alam kubur sampai hari kiamat,
  •      Pelindung dari panasnya huru hara kiamat,
  •      Mahkota bagi yang melaksanakan Sholat
  •      Baju baginya,
  •      Pelindung dari neraka,
  •      Pembela dihadapan Allah SWT,
  •      Memperberat timbangan  amal,
  •      Pengaman menuju shirotol mustaqim, dan
  •      Pembuka pintu Surga. 


Jumat, 30 November 2012

Al-Qur'an dan Al-Hadits...Sumber Keselamatan


Alhamdulillah atas segala nikmat yang dianugerahkan Allah SWT. kepada kita semua Kaum Muslimin.
Terutama Nikmat Iman dan Islam.
Sungguh sangat beruntunglah Hamba Allah yang diberikan Hidayah Petunjuk Jalan yang Benar dan Lurus.
ISLAM itu indah dan Menyelamatkan
Siapa yang Menyerahkan Hidup Mati dan Ibadahnya hanya kepada Allah SWT. Maka dia dalam keselamatan yang Nyata, dan mendapatkan Janji Allah SWT untuk dimasukkan SURGA Allah SWT.
Wajib bagi Muslim Muslimah mendalami dasar-dasar hukum Islam.
Karena Tidaklah cukup bagi seseorang Hamba beribadah dan melaksanakan segala aktifitas kebaikannya jika tidak didasari oleh Ilmu.
Agama itu Bukanlah Tiru Meniru tanpa ILMU dan GURU
akan tetapi Agama adalah tuntunan yang diajarkan oleh seorang Guru yang Alim Bijaksana dan Waspada, yang mengambil dasar kebenaran yang hakiki (AL-QUR'AN dan AL-HADITS) yang wajib diamalkan sebagaimana telah di Uswahkan oleh Nabi Muhammad SAW. yang wajib kita teladani. Amin.


Mengenal dan mengamalkan Islam dengan cara terbaik adalah mengamalkan secara ikhlas dan benar sesuai tuntunan. Untuk mengamalkan Islam seperti  itu tidak mungkin dilakukan tanpa pemahaman yang benar terhadap ajaran Islam. Yakni Ajaran ISLAM sebagaimana yang dipahami oleh generasi terbaik umat ini, yaitu Para SAHABAT NABI, TABI’IN dan TABI’IT TABI’IN. dengan kata lain. Untuk mengamalkan ajaran Islam secara baik harus dengan bekal  ILMU.
QS. Al-Isra’: 36 Allah berfirman:
وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالبَصَرَ وَالفُؤَادَ كُلُّ اُولٰـۤئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُلاً
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya".

Belajar dan Mempelajari Al-Qur'an merupakan Ibadah yang Paling Baik di sisi Allah SWT.
Rasulullah Bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرآنَ وَعَلَّمَهُ

"Sebaik-baik kamu adalah yang mau Belajar Al-Quran (siswa) dan yang Mengajarkan Al-Qur'an"

Khot Hadis Bikin semangat untuk kelas XI

  Kelompok 1 putri Artinya: Aku berlindung kepada Allah  dari Tingkahlaku (keadaan) Penghuni Neraka Kelompok 2 putri Artinya: SESUNGUHNYA DO...